Peluang Bisnis Otomotif, Dari 1.000 Orang Hanya 86 Miliki Mobil

Bloggues.com, JAKARTA - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) memandang pasar kendaraan di Tanah Air masih sangat luas. Hal ini terlihat dari rasio kepemilikan kendaraan.

Peluang Bisnis Otomotif, Dari 1.000 Orang Hanya 86 Miliki Mobil
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono. Foto/SINDOnews/Isra Triansyah


Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengemukakan, bila dibandingkan dengan Thailand rasio kepemilikan kendaran di Indonesia masih kecil.

"Di Thailand dari 1.000 orang yang memiliki kendaraan sekitar 200 orang. Sementara di Indonesia dari 1.000 orang, pemilik mobil hanya 86 orang," ungkapnya di Jakarta, Kamis (6/7/2017). 

Sebab itu, lanjut Warih, banyak produsen kendaraan yang masuk ke Indonesia dengan berbagai produk  yang ditawarkan. Mereka melihat peluang pasar dengan jumlah penduduk yang begitu besar.

"Sehingga sangat disayangkan jika pemerintah kurang serius membina industri automotif nasional. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen di negeri sendiri," terangnya.

Warih menuturkan saat ini masing-masing negara mengeluarkan kebijakan agar industri tersentral di wilayahnya. Mereka sama-sama ingin menjadi pemain. 

"Tidak hanya negara berkembang, negara maju seperti Jerman pun berusaha agar industri mereka berkembang di negerinya. Sebagai contoh mereka memberlakukan corporate tax dari 45%, dalam jangka waktu 1 tahun corporate tax mereka menjadi 15%," paparnya.

Untuk itu, Warih memandang butuh keseriusan dari pemerintah agar memprotek dan melakukan pengembangan industri automotif di dalam negeri. "Selain memang market kita sangat besar, industri kita juga harus tumbuh dan berkembang di negeri sendiri," tandasnya. [Sindo]
Peluang Bisnis Otomotif, Dari 1.000 Orang Hanya 86 Miliki Mobil Peluang Bisnis Otomotif, Dari 1.000 Orang Hanya 86 Miliki Mobil Reviewed by Star Tonn on 9:44 AM Rating: 5

No comments

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan juga relevan dengan tema artikel yang ditulis. Tidak diperkenankan untuk spaming. Terimakasih.