Survei Indocon: Elektabilitas Ahok-Djarot Merosot, Agus-Sylvi Makin Mengancam

Bloggues.com, Jakarta - Lembaga riset Indocon melakukan jajak pendapat soal elektabilitas ketiga pasang cagub-cawagub DKI Jakarta. Seperti apa hasilnya?



Hasil jajak pendapat yang dilakukan Indocon cukup mengejutkan. Elektabilitas duet petahana yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat terus merosot sampai 30,1%, sementara pasangan cagub penantang Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni semakin mengancam dengan elektabilitas saat ini 26,4%.

Hasil jajak pendapat ini dipublikasikan oleh Direktur Exsekutif Indocon Research Consulting, Fajar Nursahid, di Rajawali Room Hotel Ambhara, Jalan Sultan Iskandarsyah, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (13/11/2016). Acara ini juga dihadiri oleh peneliti CSIS J Kristiadi dan beberapa tokoh lainnya.

Pengumpulan data ini berlangsung pada tanggal 18-30 Oktober 2016. Pengumpulan data ini dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 575 responden dari 600 responden yang direncanakan. Respoden ditentukan secara proporsional terhadap proyeksi jumlah pemilih di DKI Jakarta yang tersebar di lima wilayah yakni Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu, yang sepenuhnya dipilih melalui acak bertingkat. Margin of error diperkirakan sebesar +/- 4,03% pada tingkat kepercayaan 95%.

"Hasil jajak pendapat Indocon menunjukkan elektablitas pasangan Ahok-Djarot semakin menurun hingga saat survei dilakukan di angka 30,1%. Hasil ini jauh merosot dibandingkan dengan hasil sejumlah lembaga survei pada periode September-Oktober (awal) dengan proyeksi tingkat keterpilihan untuk pasangan petahana sebesar 32 hingga 45 persen. Sementara itu di kelompok penantang, elektabilitas pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno tertahan di 21,6%. Dan secara mengejutkan, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni menyodok dengan raihan dukungan sebesar 26,4%," papar Fajar Nursahid.

Namun demikian, masih terdapat sekitar 22% masyarakat Jakarta yang belum terbuka dengan pilihannya Hasil survei juga mengkonfirmasi tingkat kemantapan pilihan sebagian besar masyarakat (60,1%) yang menyatakan kecil kemungkinan atau tidak akan berubah. Dukungan yang relatif solid ini terefleksi pada masing-masing pasangan kandidat, di mana rata-rata kemantapan pilihan berada di selang 60 hingga 70 persen. Hal ini menggambarkan relatif kuatnya basis dukungan dan loyalitas pemilih ketiga pasangan kandidat.

"Terkait dengan proyeksi elektabilitas masing-masing pasangan kandidat, karena tidak ada yang melampaui 50% lebih sebagai syarat penentuan pemenang, Pilgub DKI diprediksi akan berjalan dua putaran. Hasil survei menunjukkan skenario "head to head" di antara pasangan kandidat jika putaran kedua Pilkada berlangsung, para penantang berpotensi mengungguli petahana," terangnya.

Skenario pertama, jika putaran kedua menyisakan pasangan Ahok-Djarot dan Agus-Sylvi, maka pasangan penantang ini berpotensi unggul 50,4% berbanding 32%. Demikian juga jika Pilkada putaran kedua menyisakan pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi sebagai skenario kedua. Pasangan Anies-Sandi sebagai penantang juga berpotensi mengungguli pasangan petahana dengan raihan 46,3% berbanding 35,5%.

Bergabungnya suara pemilih pasangan penantang yang kalah ke dalam satu blok dukungan menjadi faktor kunci. Relatif solidnya para pemilih yang terbagi ke dalam dua blok: pendukung petahana dan penantang; disertai dengan sejumlah isu yang membelah masyarakat ke dalam dua sikap yang berbeda, menjadikan distribusi suara pasangan kandidat yang tidak lolos pada putaran kedua, menjadi relatif tidak merata.

Memang, ada sebagian pendukung penantang yang kalah di putaran pertama akan berpindah mendukung petahana di putaran kedua. Namun jumlahnya tidak terlalu besar, hanya sekitar 12% (jika pasangan Anies-Sandi yang tidak lolos) atau 3% (jika pasangan Agus- Sylvi tidak lolos). Sebagian besar dari mereka, cenderung akan mengalihkan dukungan ke penantang. Siapapun yang bertanding di putaran kedua melawan petahana, apakah Agus-Sylvi ataukah Anies-Sandi.

"Dengan demikian, jika Pilkada berlangsung dua putaran,sepertinya memang akan menjadi 'mimpi buruk' bagi petahana," kata Fajar Nursahid mengakhiri paparannya. [detik]
Share on Google Plus

About Star Tonn

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment