eb Taat Pribadi Orang Yang Taat Kepada Nafsu Pribadi Nya | Bloggues.com | Info Lengkap 2017 Terupdate

Taat Pribadi Orang Yang Taat Kepada Nafsu Pribadi Nya

Taat Kepada Nafsu Pribadi Nya -  Dimas Kanjeng Taat Pribadi nama ini mencuat ke publik setelah tertangkap di padepokanya pada tanggal 22 septembar 2016 lalu dengan kasus Pembunuhan, Padahal Taat Pribadi adalah penipu kelas kakap yang sudah terjadi sejak lama.

 
Taat Kepada Nafsu Pribadi Nya
Taat Pribadi pelaku pembunuhan dan penggadaan uang


Berdasarkan info yang saya dapatkan dari situs jpnn.com Padepokan Taat pribadi sudah berdiri sejak 10 tahun silam yaitu pada tahun 2006.



Subdit Ditreskrimum Polda Jatim kembali memeriksa tersangka Kanjeng Dimas Taat Pribadi, 46. Pemeriksaan kali ini fokus terkait dugaan penipuan dan pengandaan uang.

Hasilnya, terungkap yang menjadi korban sebanyak 23 ribu orang.


Pihak kepolisian belum dapat memastikan mulai kapan praktik pengandaan uang yang dijalankan. Namun yang diketahui, Padepokan Dimas Kanjeng, di Dusun Sumber Cengkele, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur ini berdiri sekitar 2006.
 
Bahkan jamaah dari Dimas Kanjeng mencapai ribuan yang tersebar dari seluruh penjuru Nusantara. Bahkan, pihaknya mengistilahkan jika padepokan itu adalah kartel yang menimbun banyak uang.

Padepokan Taat Pribadi

 
“Pedepokan itu lain dengan yang lainnya. Ibaratnya, padepokan ini sebagai kartel penipuan,” kata Kepala Subdit I Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Cecep Ibrahim, didampingi Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Kamis (29/9).


Cecep menambahkan, Taat Pribadi selain menjadi tersangka kasus pembunuhan dua mantan jamaahnya yakni Abdul Gani dan Ismail Hidayah, ternyata ia terjerat kasus lain yakni tentang dugaan penipuan dan pencucian uang.

“Awalnya, kami menerima tiga laporan terkait penipuan dengan kerugian korban dengan total Rp 1,5 miliar. Dan satu laporan dari seorang profesor di Mabes Polri dengan kerugian korban sekira Rp 20 miliar. Namun saat itu Taat Pribadi berstatus menjadi saksi terlapor,” ungkapnya.

KENAPA MASYARAKAT PERCAYA DENGAN DIMAS KANJENG ( TAAT PRIBADI ) 

 

Inilah alasan beberapa Masyarakat yang mempercayai bahwa Dimas Kanjeng bisa menggandakan uang.

Inilah beritanya yang saya kutip dari  pojoksumut

POJOKSUMUT.com, SURABAYA – Ditreskrimum Polda Jatim masih terus melakukan pemeriksaan terhadap Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Pengacara Dimas, Isya Julianto dan Andi Faizal mengungkapkan, kliennya telah menunjukkan kemampuannya untuk menggandakan uang disaksikan penyidik di Ditreskrimum Polda Jatim.

“Pihak penyidik meminta Dimas Kanjeng Taat Pribadi untuk menunjukan kemampuan pengadaan uang. Untuk membuktikan hal itu, klien kami bersedia mempraktikannya,” kata Isya Julianto, seusai menjenguk Taat Pribadi di Ditreskrimum Polda Jatim, Rabu (5/10).
Isya mengaku mendampingi Taat Pribadi saat mempraktikkan menggandakan uang. Tersangka menunjukkan kemampuannya tidak memakai jubah melainkan hanya mengenakan kaos dan celana pendek.

“Awalnya klien kami mengeluarkan sepuluh uang pecahan Rp 50 ribu dari tangan yang berada di belakang tubuh. Kemudian lagi mengeluarkan dua lembar uang pecahan Rp 100 ribu,” jelasnya.
Dia mengungkapkan saat itu penyidik menyaksikan secara langsung kliennya mengeluarkan uang sebanyak 12 lembar. Menurutnya, jika ditotal uang tersebut sebanyak Rp 700 ribu.
 
“Lalu, uang asli tersebut diberikan ke penyidik. Kemudian, oleh penyidik kembali diberikan ke klien kami,” jelasnya.

Menurut Isya, pihaknya sepenuhnya menyerahkan kepastian kepada penyidik kepolisian terhadap uang hasil penggandaan kliennya. Sebab, untuk memeriksa uang itu asli atau palsu, polisi yang dapat membuktikannya.
 
“Sekarang uang itu diberikan penyidik ke klien kami dan dibawa ke dalam tahanan,” imbuhnya. Isya menambahkan, saat pengadaan itu suasana relatif tegang. Semua orang tertuju ke kliennya. Ia pun sempat cemas. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Dia begitu takut klien tidak bisa membuktikannya. Namun ketakutannya terobati saat melihat lembaran uang warna biru berada di tangan Taat Pribadi.

“Sempat takut sih. Walaupun saya beberapa kali juga pernah melihat secara langsung mengadaan uang itu bersama orang lain,” kata Isya. Disinggung soal ATM dan mahar menurut Isya, itu tidak benar. Sebab, di padepokan tidak ada mahar yang ada hanya uang untuk menyumbang guna perkembangan pedepokan.
 
“Kabar penggandaan itu adalah pemberian uang kembali kepada santri. Uang itu digunakan untuk melaksanalan program padepokan,” tuturnya.
Isya mengatakan untuk ATM hanya orang tertentu yang diberikan. “Saya menegaskan mereka bukan memberikan mahar ini adalah bentuk dari sumbangan untuk membantu perkembangan pedepokan,” tandasnya.

Pengacara lainnya, Andi Faizal mengatatakan sampai sakarang pihaknya telah mempersiapkan tim ahli hukum terdiri dari sembilan pengacara untuk membela tersangka.
“Jumlah pengacara itu belum pasti. Nantinya, kemungkinan besar akan bertambah,” kata Andi Faizal.

Andi mengaku sangat prihatin terhadap kasus yang menimpa Taat Pribadi. Kendati demikian, pihaknya terus berupaya untuk mendampingi dan memberikan bantuan hukum terhadap tersangka.

“Kami meminta kepada rekan-rekan supaya lebih jeli terhadap kasus ini. Sebab, selama ini yang melanda klien kami masih dilakukan penyidikan dan masih menjadi pertanyaan,” ungkapnya.

Saat ditanya terkait kasus pembunuhan yang melibatkan Taat Pribadi itu, ia berpendapat yang menjadi pertanyaan itu mengapa Abdul Gani dan Ismail Hidayah itu dibunuh.
“Silakan pihak penyidik membuktikannya. Kami juga terus berupaya mengumpulkan para saksi,” jelasnya.

Rencananya, lanjut dia, pihaknya akan mendatangkan semua saksi yang mengetahui secara pasti terkait kedua korban. Kalau tidak ada halangan, para saksi akan dihadirkan ke Ditreskrimum Polda Jatim.

“Sudah kami persiapkan, besok (hari ini, Red) saksi akan kami datangakan,” ungkapnya.
Dia mengaku sudah mengenal Abdul Gani sejak lama. Abdul Gani merupakan ketua LSM, yang sering meminta uang ke kliennya.

“Sudah semenjak berdirinya Pedapokan Dimas Kanjeng ini mulai dari 2002, 2006, Abdul Gani datang ke padepokan,” tandasnya.
Dia melanjutkan meminta pihak kepolisian untuk membuktikan kasus yang membelit kliennya ke pengadilan.

Dikonfirmasi soal Dimas Kanjeng Taat Pribadi membuktikan kemampuannya menggandakan uang di depan penyidik, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol RP Argo Yuwono tidak menyangkal dan juga tidak membenarkan.
“Kami masih fokus pada penyidikan. Untuk pengadaan uang nanti ya,” kata Argo singkat.

Alat-alat kesaktian  "pusaka" Dimas Kanjeng  yang membuat ngakak membaca fungsinya.

Sumber artikel : http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2016/09/30/heboh-dimas-kanjeng-taat-pribadi-bisa-menggandakan-uang/

"Pusaka" Taat Pribadi
Modus Dimas Kanjeng Taat Pribadi dalam mengumpulkan pundi-pundi uang sedikit demi sedikit, mulai terungkap. Tersangka otak pembunuhan berencana itu memiliki sejumlah alat perlengkapan yang memikat pengikutnya agar bisa mendapat uang berlipat.
Alat-alat tersebut terungkap setelah dua korban penipuan Dimas Kanjeng melapor ke Polda Jatim. Salah satunya adalah Prayitno asal Jember. Dia merasa rugi hingga Rp 900 juta karena menyerahkan duit melalui Ismail. Ada bukti kuitansi yang dibuat Ismail.

Selain itu, ada juga korban Rahmadi Suko Ari Wibowo. Pria kelahiran Blitar itu baru melapor Jumat (23/9) pekan lalu. Dia juga merasa tertipu setelah menyerahkan uang Rp 1,5 miliar untuk digandakan.

KANTONG EMAS


Dalam laporan itu, kedua korban juga menyerahkan bukti yang menjadi penguat laporannya. Salah satunya adalah kantong emas. Kantong tersebut berbentuk segi empat dan terbuat dari kain warna merah yang besarnya segenggaman tangan orang dewasa. Di bagian atasnya terdapat tali yang jika ditarik, akan membuat kantung tersebut tertutup.

Kasubdit Keamanan Negara Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Cecep Ibrahim mengatakan, berdasar pengakuan korban, kantong tersebut dibeli dari Dimas Kanjeng seharga Rp 10 juta. Di dalam kantong tersebut berisi benda yang bentuknya mirip perhiasan. Seperti gelang, kalung, dan anting. ”Janjinya perhiasan itu akan bertambah terus. Tidak akan habis kalau diambil,” katanya.

Polisi sudah mengecek keaslian perhiasan tersebut dengan mengeceknya di kantor Pegadaian. Hasilnya, tidak ada satu pun benda di dalam kantong tersebut adalah emas asli. Semuanya sepuhan. Hanya warna yang membuat benda itu sangat mirip dengan perhiasan.

Cecep mengatakan, pendapatan Dimas Kanjeng bisa berlipat ganda karena setiap korban tidak hanya membeli satu kantong. Satu pengikut bisa membeli hingga tiga kantong. Seperti yang dilakukan korban yang sudah melapor. Dia membeli tiga kantong emas. Semuanya sudah diserahkan kepada polisi. ”Bisa saja untuk anaknya, bisa untuk saudaranya, bisa juga untuk dirinya sendiri,” ungkapnya.

DAPUR ATM


Peralatan lainnya, ada yang disebut dengan istilah Dapur ATM. Istilah itu dipakai bisa jadi karena fungsi bendanya mirip mesin ATM yang diklaim bisa mengeluarkan uang. Bentuknya adalah kotak yang terbuat dari kayu. Di dalam kotak itu, ada tulisan Arab tanpa harakat pada secarik kertas.

Cara kerjanya sangat simpel. Pengikut cukup menempelkan uang Rp 10 ribu pada tulisan Arab, lalu dimasukkan ke plastik, dan dimasukkan lagi ke dalam kotak kayu. Menurut janji Dimas Kanjeng, pengikut yang sudah melakukan ritual, akan mendapatkan Rp 5 juta dari dapur ATM tersebut setiap harinya.

Cecep mengatakan, sampai laporan ke Polda Jatim, korban belum pernah melihat kotak tersebut mengeluarkan uang Rp 5 juta seperti yang dijanjikan. Bahkan dia sendiri yang sudah mengamankan kotak tersebut, belum pernah melihat uang keluar dari kotak itu. ”Sudah gua cek setiap hari tuh,” ujarnya.

Meski tidak mengeluarkan uang seperti yang dijanjikan, korban menahan diri untuk tidak mempertanyakannya. Sebab salah satu ajaran Dimas Kanjeng, mempertanyakan sama saja dengan meragukan, sedangkan meragukan sama dengan mengkhianatinya. Karena itulah, mereka tidak pernah berani bertanya kenapa kotak itu tidak kunjung mengeluarkan uang.


Harga dapur ATM itu termasuk murah, jika dibandingkan hasil yang akan diterimanya. Masing-masing dijual seharga Rp 250 ribu. Meski nilainya ratusan ribu, bisa mendatangkan keuntungan yang besar bagi Dimas Kanjeng lantaran pembelinya puluhan ribu orang. ”Kalikan sendiri. Ada yang ngomong pengikutnya 23 ribu.

PULPEN LADUNI

Coba kalau dikalikan,” imbuhnya. Bukan itu saja. Dimas Kanjeng juga memiliki pulpen laduni. Pulpen itu dijual dengan harga Rp 10 ribu. Di dalam pulpen itu terdapat tulisan Arab yang disebut dengan istilah doa. Barang siapa yang memegang pulpen tersebut, diyakini langsung bisa menguasai tujuh bahasa asing.
 
Klaim itu dibantah sendiri oleh Cecep. Dia dan anak buahnya  sudah memegang pulpen tersebut. Meski begitu, dia tidak lantas menguasai tujuh bahasa asing.

Perwira dengan dua melati di pundak itu mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara disimpulkan, ada tim tersendiri yang membuat peralatan tersebut. Misalnya pulpen yang di dalamnya bertuliskan huruf Arab. Pulpen itu dibuat dengan memesan kepada seseorang di luar padepokan. Begitu pun dengan kantung dan kotak kayu.

Sementara itu, polisi juga sedikit menyingkap praktik penipuan Dimas Kanjeng yang banyak muncul di Youtube. Dalam salah satu rekaman berdurasi singkat itu, Dimas Kanjeng mengenakan jubah besar di depan tumpukan uang yang tidak tertata. Sesekali, kedua tangannya masuk ke samping tubuh. Setelah itu, dari tangannya keluar uang kertas pecahan seratus ribuan yang disebar dan berbaur dengan tumpukan uang lainnya.

JUBAH


Cecep mengatakan, dari pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang terlihat di Youtube tersebut,terungkap bahwa Dimas Kanjeng memiliki banyak jubah. ”Tiga sudah diamankan. Dua warna hitam, satu warna kuning,” jelasnya. Jubah itu dipesan khusus kepada penjahit di luar padepokan. Dimas Kanjeng sendiri yang mendesain bentuknya.

Di jubah bagian belakang agak samping terdapat dua saku besar. Cecep menyebut, saku tersebut bisa memuat uang hingga Rp 200 juta. Nah, saat tampil di Youtube tersebut, tangan Dimas Kanjeng masuk ke belakang samping dan merogoh saku yang berisi uang. Duit itulah yang kemudian dikeluarkan dan disebar di antara tumpukan uang kertas yang ada di depannya.

Ketika duit yang disimpan di saku jubah habis, Dimas Kanjeng segera menggelar ritual berdoa. Setelah itu, dia kembali masuk ke dalam kamar dan mengganti dengan jubah yang berwarna dan berbentuk sama. Jubah yang baru saja diganti itu, sudah terisi uang terlebih dahulu. ”Nanti orang mengiranya uang tidak pernah habis. Padahal sudah ganti jubah,” ujarnya.

Cecep menambahkan, saat ini kasus penipuan yang diusutnya masih tahap penyelidikan. Menurut dia, dengan pelapor yang ada sudah bisa dijadikan dasar untuk menaikkan status menjadi penyidikan. Tapi korban yang melapor masih sedikit. Padahal korbannya masih banyak.

Marwah Daud Bela Dimas Kanjeng


Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Marwah Daud Ibrahim angkat bicara soal kasus yang menjerat gurunya. Marwah mengelak dikatakan apa yang dilakukan Dimas Kanjeng merupakan penggandaan uang. ”Memang ada uang yang disetorkan oleh anggota tapi itu sifatnya kontribusi saja, sama seperti kita ikut yayasan atau perkumpulan lainnya,” ujar mantan anggota DPR RI itu.

Menurut Marwah, saat ini anggota yayasannya telah mencapai 23.540. Mereka tersebar dari Aceh hingga Papua. Marwah mengaku tak tahu dari mana asalnya uang yang didatangkan oleh Dimas. Yang pasti, dia melihat sendiri uang bisa didatangkan oleh Dimas seperti yang terekam dalam video selama ini. ”Uang itu tak hanya datang dari tangannya. Tapi ada juga tiba-tiba datang peti berisi uang,” ujar Marwah saat datang ke kantor Jawa Pos, tadi malam.

Kejadian gaib itu tak hanya terjadi di padepokan Dimas. Namun juga bisa terjadi di rumah para anggota atau pengikutnya. Marwah sendiri mengaku, uang bisa datang tiba-tiba di rumahnya. ”Tapi beliau pesan agar tidak digunakan dulu,” ujar doktor lulusan American University Washington DC itu.

Uang yang didatangkan Dimas Kanjeng itu tak hanya rupiah. Namun juga dalam mata uang asing, termasuk dollar. Marwah yakin uang itu asli. Dia juga menyangkal uang yang didatangkan Dimas berasal dari harta orang lain. ”Buktinya kan tidak ada yang merasa kehilangan,” terang perempuan kelahiran 8 November 1956 itu.
Marwah menyebut uang yang didatangkan Dimas itu akan dipergunakan untuk pembiayaan program-program pemberdayaan masyarakat. Salah satu program Pasar Rakyat bahkan sudah dijalankan di Probolinggo ketika Dimas merayakan ulang tahun.

Perempuan kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan itu curiga ada orang yang berupaya menarik keuntungan pribadi dari keahlian Dimas. Itulah kenapa kemudian muncul video atraksi ketika Dimas mendatangkan uang. ”Video itu lantas diedit dan ada yang memanfaatkan untuk penipuan,” ungkapnya. 

Menurut dia, selama ini orang yang melihat keahlian Dimas sebenarnya dilarang untuk menyebarluaskan. ”Teman-teman wartawan di sana juga pernah ada yang melihat sendiri, tapi memang dilarang menyebarluaskan,” imbuhnya.

Dia juga membantah keterangan polisi bahwa Dimas mengharuskan pengikut atau anggota yayasannya membeli sesuatu sebagai mahar untuk mendatangkan uang. Marwah mengatakan, pihaknya tak memaksa masyarakat untuk mempercayai kemampuan Dimas. Tapi dia juga berharap agar sejumlah pihak tidak memaksakan orang agar tak mempercayai Dimas. ”Sekarang ini ada yang berupaya memulangkan santri-santri beliau. Ada yang merancang untuk melapor sebagai korban,” urainya.

BI Cek Uang Padepokan


Sementara itu, Bank Indonesia (BI) siap menerjunkan tim ahli ke Probolinggo untuk menghitung dan mendeteksi keaslian uang yang dihimpun Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sebelumnya, pada Selasa (27/9), BI telah menugaskan tim ahli untuk memenuhi undangan Polda Jatim. Namun karena saat itu pihak kepolisian belum menemukan dan melakukan pemeriksaan terhadap uang yang konon berada dalam sebuah bunker, maka tim pemeriksaan dari BI pun urung dilakukan.

“Tim kami terdiri dari tiga orang. Rencananya, minggu depan tim itu akan ke Probolinggo untuk memeriksa uang yang ada. Prinsipnya, kami akan turun ke lapangan kalau diminta oleh Polda,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim Benny Siswanto kemarin (29/9).

Tim ahli dari BI itu akan melakukan penelitian tehadap keaslian uang dengan melakukan sampling. Selain itu juga dengan menggunakan mesin pendeteksi keaslian milik BI. Uang yang diteliti oleh BI hanyalah uang rupiah saja. Jika nantinya ditemukan mata uang lain, BI tidak berwenang melakukan penelitian. “Kalo mata uang lain, nanti kepolisian yang akan meneliti. Mereka punya bagian khusus untuk itu,” lanjut Benny.

Terkait janji yang diumbar Dimas Kanjeng bahwa dirinya bisa menggandakan uang, tindakan itu tentu dinilai tidak logis. Kecuali jika uang dari para santri itu diinvestasikan ke dalam produk investasi tertentu. Soal itu pun, perlu ada izin yang dipegang oleh pengumpul dana dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Menggandakan uang itu tidak rasional. Yang rasional ya investasi, misalnya ke sektor riil. Itu perlu diteliti lagi apakah individu itu memegang izin untuk mengumpul dana dan melakukan suatu kegiatan investasi,” ujarnya.

Berbagai sumber.




Share on Google Plus

About Star Tonn

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan juga relevan dengan tema artikel yang ditulis.