Pengusaha Trading Saham Bermental Baja

Star Tonn | 11:44 AM | 0 komentar

HENRY SETIAWAN, 30 tahun adalah sosok yang muda kreatif dan juga  memiliki semangat tak kunjung padam. Ide-ide segarnya selalu muncul atas dorongan rasa keingintahuan.

Pengusaha Trading Saham Bermental Baja


Sudah tak terhitung yang berhasil bahkan mampu untuk membuka peluang usaha dengan strategi baru. Kemandirian yang ditunjukkannya menjadi jawaban atas keraguan para generasi tua pada umumnya. Sepak terjang di dunia bisnis yang dilakukannya dimulai pada saat dia kuliah di Ohio State University, Amerika Serikat. 

Saat itu dia mengenal sesuatu yang baru dalam hidupnya, yakni jual beli (trading) saham. Walau hanya bermodalkan "uang jajan", namun dia bisa mengumpulkan uang sampai USD40 ribu. Proses itu memang tidak gampang, sekira tahun 2000-an dia sempat jatuh bangun hingga harus bekerja di sebuah perusahaan produk makanan ternama di Amerika. "Waktu itu nilai dolar mencapai Rp17 ribu per dolar. Saya bisnis trading saham sambil kuliah, cuma iseng-iseng saja. 


Trik dapat uang dari Trading Saham


Sempat jatuh sampai hancur juga, sampai uang sekolah, uang makan semua dipakai. Tapi saya tidak kapok biarpun harus kerja menjadi pelayan,"tutur Henry, dalam wawancara di sebuah factory outlet di Jalan Setia Budhi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. 

Menjadi trader saham merupakan pelajaran pertamanya dalam memahami dunia bisnis. Namun naluri bisnis yang diwariskan dari orang tuanya, Edhi Setiawan dan Anne Setiawan, tertanam cukup kuat. Meski dalam keadaan terpuruk dia tidak pernah mengeluhkan hal itu kepada orang tua. 

Semua dihadapi sendiri hingga bisa mengembalikan modal plus keuntungan dalam bisnis saham tersebut. Walau hanya iseng, tetapi justru dari pengalaman itu Henry mengenal bisnis saham.
"Saya juga sampai bekerja di perpustakaan sekolah, karena jatuh dan harus mengembalikan keuntungan. 

Orang tua saya tidak tahu.Memang mereka tidak usah tahulah; saya yang berbuat,maka saya pula yang bertanggung jawab," katanya. Setelah lulus pada akhir 2001, Henry menyandang gelar bachelor science of bussines administration in finance. Pehobi sepak bola, basket, dan voli itu sempat bekerja di sebuah perusahaan broker saham ternama di Amerika. 

Pengalaman yang dijalaninya membawa Henry ke dalam satu dinamika hidup yang sempurna. Walau masih muda, tapi anak pertama dari tiga bersaudara itu tidak pernah ceroboh dalam mengambil keputusan.

Hal itu didasari oleh kematangan sikap hingga mencapai kesuksesan dalam kariernya. Sebelum pulang ke Tanah Air, pada 2002 hingga 2003, Henry bekerja di sebuah perusahaan industri plastik di Fujian, China, dengan jabatan VP Marketing. Setelah itu pindah ke Hong Kong, bekerja di Wing Crown Co,Ltd, dengan jabatan yang sama hingga 2004. 

Kemudian pekerjaan itu dia lepas lantaran lebih terpanggil untuk mengurus perusahaan keluarga, yakni PT Muara Teguh Persada milik sang ayah Edhie Setiawan. Dia mengaku, rasa tanggung jawab untuk melanjutkan dan mengembangkan perusahaan milik ayahanda yang bergerak di bidang pendistribusian Pupuk Kujang cukup besar. Padahal Henry merasa ilmu dan pengalamannya belum cukup untuk melanjutkan secara penuh perusahaan tersebut.

Cara mendapatkan dollar dari internet

 


"Saya butuh gemblengan untuk mengembangkan perusahaan ini. Karena itu saya sengaja menggali pengalaman dengan membuka bisnis sendiri, agar suatu saat benar-benar sudah matang untuk mengembangkan perusahaan tersebut," katanya. Mencapai kesuksesan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pahit getir selama menggeluti dunia bisnis dirasakan pula oleh Henry. 

Tak tanggung-tanggung, sekira tahun 2007 dia harus mengganti sendiri uang milik para kliennya sebesar Rp10 miliar,setelah modal dan keuntungan perusahaan yang bergerak di bidang investasi dibawa kabur oleh rekannya sendiri. Perusahaan yang dibinanya bergerak di bidang investasi tersebut didirikan pada 2004 lalu.

"Tapi saya tidak boleh merugikan para investor, kerugian para klien saya hadapi sendiri sampai uang saya terkuras habis," terang Henry yang enggan menyebutkan nama perusahaan tersebut. "Saya berguru pada papa saya dalam menggeluti dunia bisnis. Dia orangnya sangat ulet dan tidak ada kata menyerah, walau seberat apa pun cobaannya," ungkap Henry. 

Setelah beberapa tahun mengelola perusahaan tersebut, kemudian dia menjualnya. Bukan karena ketidakseriusan, tapi ayah dari Axton Setiawan (tiga bulan) ini selalu 'gatal' untuk mencari tantangan demi menggali pengalaman baru. "Perusahaan itu dijual sekira tiga tahun yang lalu. Saya lakukan itu dengan sebuah pertimbangan yang matang setelah saya dengan tangan sendiri mengatasi kemelut di tubuh perusahaan. Saya yakin itu adalah sebuah keputusan yang tepat," ucap Henry. 

Henry tentu cukup cerdik dalam menggeluti dunia usaha. Beruntung perusahaan itu bukan satu-satunya yang didirikan Henry. Dia pun mendirikan PT Muara Teguh Persada yang berkembang hingga sekarang. Selain itu, pada 2005, dia juga mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, Founder Weston Financial Group.Dalam mengelola dana para investor besar yang dipercayakan kepadanya, transparansi menjadi kunci yang senantiasa dipegang teguh untuk memelihara kepercayaan orang lain.

Dana para investor itu pun dikelola secara terbuka, dan saling menguntungkan. Alumnus SMA St Aloysius Bandung tahun 1998 itu membentuk sebuah team workyang solid dalam menjalankan perusahaan. Untuk memperkokoh target keberhasilan, dia lebih mengedepankan edukasi terhadap nasabah atau investor yang akan mempercayakan uangnya.

Dia mengaku enggan mengumbar janji muluk yang belum tentu akan membuahkan kepercayaan. Benih kesuksesan yang lebih besar mulai tampak pada diri Henry. Sosok muda ini dipercaya orang tua untuk menjadi salah satu pewaris PT Muara Teguh Persada, sebuah perusahaan distributor Pupuk Kujang yang terbesar di Jawa Barat.

Bukan hanya itu, dia pun dipercaya untuk mengelola PT Jawimas Trans, perusahaan expeditur Pupuk Kujang yang berbasis di Bandung Jawa Barat.Meski saat ini belum terjun secara penuh, Henry cukup konsisten dalam menjalani kariernya di bidang tersebut. Kini dia tengah berkonsentrasi penuh mengelola bisnisnya sendiri di Zivaro Production, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa label rekaman, konsultan musik, event organizer, dan manajemen artis.Henry mengambil peran sebagai chief executive office (CEO) di perusahaan tersebut. 

Bahkan dalam waktu dekat Zivaro Record akan mempromosikan artisnya, yaitu EX-MEMBER Band. Henry pun terlibat di dalamnya sebagai penggebuk drum.

"Menjalankan perusahaan label ini sebetulnya terdorong oleh hobi saya di dunia musik. Ya mengelola, ya main musik juga," papar laki-laki kelahiran Bandung, 5 Juni 1980,ini. Kakak dari Erwin Setiawan dan Felix Setiawan ini boleh dibilang sebagai generasi muda yang multitalenta. Dia merupakan salah satu contoh produk keluarga pebisnis yang sukses. Sosok yang tahu akan keadaan dan tanggung jawab keluarga di masa yang akan datang itu lebih dulu menggali potensi diri semaksimal mungkin dengan pengalaman dan pemahaman ilmu yang beragam, dari pendidikan formal hingga mempraktikkan bisnisnya sendiri.

"Walau harus jatuh bangun, saya lakukan semua ini demi sebuah kematangan secara lahir maupun batin sebelum diberikan tongkat estafet oleh ayah saya untuk memimpin perusahaan keluarga," kata Henry. 

"Life is gambling (hidup adalah tebakan)," demikian moto hidup yang dipegang Henry Setiawan, suami dari Astrid Teadi. Baginya, bisnis apa pun adalah masa depan.

Sumber : [okezone.com]

Category:

Bloggues.com
Adalah Blog yang berisi tentang Informasi Publik dan Berita Terbaru, Berita Politik, Berita Olahraga, Berita Islam, Berita Seleb, Info Kesehatan, Info peluang bisnis

0 komentar

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan juga relevan dengan tema artikel yang ditulis.