Kisah BJ Habibie, Tolak Mentah-Mentah Tawaran Warga Negara Jerman

Kisah BJ Habibie, Tolak Mentah-Mentah Tawaran Warga Negara Jerman - Miss Indonesia 2006 asal Manado, Sulawesi Tenggara, Kristania Virginia Besouw dikabarkan sudah pindah menjadi warga negara Amerika Serikat dan bergabung dengan US Army sejak Oktober 2014 silam.

BJ Habibie

 
Kabar pindahnya wanita yang akrab disapa Kristy dan menjadi serdadu negeri Paman Sam sempat membuat heboh publik. Dalam akun twitternya, dara cantik kelahiran Manado 7 Mei 1985 mengaku tinggal di Laguna Hill, California. Kristy sendiri mengaku memilih bergabung dengan US Army agar bisa segera pulang ke kampung halamannya di Manado, Sulawesi Utara. Ia mengaku sudah sangat merindukan tanah kelahirannya.

Selain Kristy, bangsa Indonesia juga mempunyai putra-putri terbaik bangsa yang kemampuan dan ilmunya diakui dunia, sebut saja Presiden RI ketiga, Bachruddin Jusuf Habibie (BJ Habibie).

Pria kelahiran Parepare (Sulawesi Selatan) pada 25 Juni 1936 menolak status kewarganegaraan yang diberikan pemerintah Jerman. BJ Habibie tetap memegang teguh merah-putih dan tetap memilih menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Dalam sebuah bukunya berjudul "Habibie dan Ainun", secara tegas dan gamblang ia menegaskan kala itu Jerman menawari Habibie untuk menjadi warga negara kehormatan. Sebuah tawaran yang amat jarang diberikan oleh Jerman. Namun demikian, BJ Habibie tidak silau dengan tawaran yang diajukan Jerman. BJ Habibie memilih setia menjadi WNI, BJ Habibie juga menolak tawaran Jerman.

"Sekalipun menjadi warga negara Jerman, kalau suatu saat tanah air memanggil, maka Paspor Jerman akan saya robek dan saya akan kembali ke tanah air," katanya.
Sebelum diangkat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) pada tahun 1978 hingga 1997 di era Orde Baru, BJ Habibie banyak menghabiskan waktunya menimba ilmu di Jerman.

Pada tahun 1955, BJ Habibie melanjutkan kuliah ke Rhenisch Wesfalishe Tehnische Hochscule. Selama sepuluh tahun lebih atas biaya ibunda R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan waktu selama sepuluh tahun menyelesaikan studinya.

Pada tahun 1962, sebelum melanjutkan program doktoralnya, BJ Habibie muda menikah dengan Hasri Ainun. Pada tahun 1965 BJ Habibie menyelesaikan studinya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cumlaude. Habibie sendiri mendalami bidang Desain dan Konstruksi Persawat Terbang.

Berbekal dengan prestasi dan otak cemerlang, BJ Habibie sendiri tidak mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Setelah lulus, BJ Habibie bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohn atau MBB Hamburg. Selama empat tahun ia menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktur Pesawat Terbang.

Karier BJ Habibie sendiri semakin mencorong, pada tahun 1969 ia diangkat sebagai Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang Komersial dan militer di MBB. Selama empat tahun lebih ia memegang jabatan prestisius tersebut. 

Kemudian pada tahun 1973, BJ Habibie dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978. Setahun kemudian pada tahun 1974, Presiden Suharto menyadari bahwa BJ Habibie adalah sosok anak bangsa yang cemerlang.

Pada tahun itu juga penguasa Orde Baru memerintahkan Mayjen TNI Ibnu Sutowo untuk menemui BJ Habibie dan membujuk agar ia mau pulang ke tanah air. BJ Habibie sendiri langsung mengiyakan dan bersedia kembali ke tanah air. Oleh Presiden Suharto, BJ Habibie diangkat menjadi penasihat pemerintah di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978.

Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.

Kemudian sejak diangkat sebagai Menristek pada tahun 1978, BJ Habibie melepaskan jabatan dan posisi strategisnya di Jerman. Sejak itu BJ Habibie fokus membangun industri pesawat terbang di tanah air.

Presiden Suharto sendiri membentuk Divisi Teknologi dan Teknologi Penerbangan (ATTP) pada tanggal 5 Januari 1974. Seiring dengan berjalannya waktu ATTP berubah nama menjadi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, disingkat BPPT, hal tersebut sesuai dengan Keputusan Presiden RI No. 47 tahun 1991.

Dalam perjalanannya BJ Habibie juga berhasil mendirikan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Dari IPTN itulah BJ Habibie berhasil membuat pesawat terbang CN 2350 yang kemudian dikenal dengan nama Gatot Kaca. 

Sumber : [news.merahputih.com]
Kisah BJ Habibie, Tolak Mentah-Mentah Tawaran Warga Negara Jerman Kisah BJ Habibie, Tolak Mentah-Mentah Tawaran Warga Negara Jerman Reviewed by Star Tonn on 4:24 PM Rating: 5

No comments

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan juga relevan dengan tema artikel yang ditulis. Tidak diperkenankan untuk spaming. Terimakasih.