CUMA BAYAR 500 RIBU BISA HALAMAN SATU GOOGLE, MAU ? >> WA 0852 1618 7222

Sistem Operasi Komputer dari Indonesia

Sistem operasi komputer apa yang Anda biasa gunakan sehari-hari? Windows atau Macintosh kah? Apakah selama ini Anda menggunakan yang orisinal?


Sistem Operasi Komputer dari Indonesia


Sistem operasi orisinal yang umumnya mahal membuat masyarakat akhirnya memilih yang bajakan. Maraknya penggunaan sistem operasi bajakan ini mendorong Jordan Andrean untuk membuat sebuah sistem operasi yang legal dan mudah dijangkau oleh masyarakat sekitarnya.

“Tantangan terbesar yang dihadapi dalam mengenalkan program ini adalah paradigma masyarakat yang menganggap open source itu susah. Padahal Android yang sehari-hari digunakan adalah open source juga,” tutur Jordan Andrean.

Akhirnya, Jordan Andrean, pemuda Pemalang, Jawa Tengah, bersama teman-temannya membentuk Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) pada tahun 2012. 

Dengan latar belakang ingin membuka wawasan masyarakat Pemalang terhadap teknologi dan informasi, serta mengajak masyarakat untuk menggunakan system operai komputer yang legal, Jordan Andrean dan rekan-rekan menyebarkan brosur ke sekolah-sekolah dan jalan.

Walau sempat kurang mendapatkan respons yang diharapkan, pada akhirnya KPLI bertambah anggotanya dan menjadi tempat belajar dan berdiskusi. Pada tahun 2013, komunitas ini akhirnya berubah nama menjadi Grombyang OS, sama dengan nama sistem operasi yang mereka kembangkan dan sosialisasikan agar dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Komunitas Grombyang OS

Komunitas Grombyang OS menawarkan sistem operasi komputer yang mirip dengan Windows dan dapat diunduh oleh masyarakat secara cuma-cuma. Dengan adanya Grombyang OS, masyarakat tidak perlu lagi melanggar hak cipta karena menggunakan produk yang selama ini mereka pakai secara ilegal. Terlebih lagi, sistem ini lebih cepat kerjanya dan tidak membutuhkan antivirus.

Dengan menyasar para siswa pada awalnya, ternyata Grombyang OS diminati oleh berbagai kalangan. Hingga saat ini telah ada 4.000 pengguna yang tersebar di seluruh Indonesia. Komunitas Grombyang OS yang kini beranggotakan 20 orang senantiasa menjalin forum melalui social media dan memberikan pelatihan ke sekolah-sekolah di Indonesia secara online dan offline guna mengembangkan sistem Grombyang OS.

Jordan mengaku bahwa awal mula ia menjadi peserta SATU Indonesia Awards 2015 karena didaftarkan oleh Onno Purbo, pakar teknologi informasi yang sekaligus merupakan juri SATU Indonesia Awards. “Saya tidak menyangka akan jadi seperti sekarang.

 Waktu itu saya ikut karena ingin lebih maju lagi,” ucap penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2015 Kategori Kelompok.

Jordan juga memiliki tips bagi anak muda Indonesia yang ingin membuat sebuah perubahan, “Mulainya dengan diskusi santai, dari situlah ide-ide akan muncul dan bisa kita mulai dengan langkah kecil, misalnya dengan mempelajari langsung di lapangan, lalu merancang apa yang dibutuhkan. 

Pada intinya, terjun ke target sasaran dan membawa solusi.”
Hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum terjangkau teknologi. “Alasannya bukan karena tidak ada akses, tetapi mereka malas mencoba,” ujar pria yang mengadakan pelatihan mengoperasikan komputer, mengetik, hingga menggunakan aplikasi.

Menurut Jordan, masyarakat perlu disadarkan, hingga akhirnya mereka merasa bahwa memanfaatkan teknologi dapat berguna untuk kesejahteraan.

Gros LAB untuk Sekolah

Tak berhenti berinovasi, komunitas ini juga membantu perangkat desa dengan membuatkan sistem di Grombyang OS sesuai dengan kebutuhan operasi dan komunikasi desa. 

Baru-baru ini, komunitas Grombyang OS juga sedang mengembangkan sebuah inovasi bernama grosLAB, sistem operasi untuk laboratorium SMP dan SMA. 

grosLAB memiliki beberapa aplikasi multimedia di dalamnya yang dapat menunjang pembelajaran siswa-siswi di sekolah, seperti e-learning, video conference dan listening tools.

Inovasi ini dilatarbelakangi oleh fokus Grombyang OS pada dunia pendidikan dan adanya kebutuhan langsung di sekolah. Mereka ingin mengenalkan teknologi ke orang-orang di pedesaan.  Saat ini, Jordan dan rekan-rekan melaksanakan riset dan uji coba di salah satu SMA Al Barkah di Cianjur.

Selain grosLAB, komunitas, yang selama ini hanya menggunakan rumah sendiri atau kafe sebagai tempat berkumpul, berencana membuat pusat pelatihan yang menyediakan komputer dan akses internet agar masyarakat dapat datang dan belajar bersama. 

Sebagai langkah awal, Jordan berencana membuat pusat pelatihan di Pemalang terlebih dahulu.

Source : http://satu-indonesia.com
Share on Google Plus

About Star Tonn

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. artikel anda sangat membantu berisi informasi yang membantu
    saya menunggu artikel anda selanjutnya

    poin4d

    poin4d

    poin4d

    poin4d

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan juga relevan dengan tema artikel yang ditulis.