Usaha Rumahan di bulan puasa

Usaha Rumahan di bulan puasa - Kolang-kaling yang diproduksi dari buah pohon aren atau mergat yang banyak muncul saat bulan Ramadhan merupakan berkah bagi masyarakat yang menggeluti usaha rumahan ini. Penganan ini paling diminati konsumen dibulan suci Ramadhan ini, yakni kolang-kaling jenis anggur yang bentuknya bulat kecil berwarna putih bersih bak buah anggur.

Bisnis Kolang-kaling peluang Usaha di bulan puasa


Di Sumatera Utara khususnya, produksi kolang-kaling asal Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat, sudah menembus pasar ekspor ke berbagai negara, seperti Malaysia, Arab Saudi dan negara-negara jiran lainnya seperti Singapura dan India. Sedangkan di pasar lokal, kolang-kaling asal Selesai itu terus mengisi pasar di Jakarta, Bogor dan Bandung sejak 20 tahun silam.

Selain dari Selesai, Langkat, tercatat Kabupaten Simalungun dan Deliserdang di Sumatera Utara juga merupakan daerah sentra produksi kolang-kaling. Usaha ini sudah menjadi rutinitas bagi sebagian masyarakat di Kecamatan Selesai, Langkat, yang mata pencahariannya tertumpu terhadap buah mergat.

Namun bagi sebagian masyarakat di Kecamatan Tanjungpura, Gebang, Pangkalansusu, Besitang dan Secanggang, industri kolang-kaling ditekuni mereka saat bulan Ramadhan saja setiap tahunnya. Mereka menjalankan usaha ini di bulan suci dalam mengais rezeki.

"Membuat kolang-kaling ini usaha berkah di bulan suci, bagi kami kaum pedagang dan penggalas, bentuk yang diminati konsumen pun unik. Mereka menyukai kolang-kaling jenis anggur ketimbang kolang-kaling yang besar dan gepeng," ungkap Syamsul Bahri (53), seorang perajin industri kolang-kaling di dusun Satu Desa Serapuh Asli Kecamatan Tanjungpura, Langkat saat ditemui MedanBisnis, Selasa (7/6).

Dia mengatakan, kolang-kaling anggur ini dipasarkan di desa-desa dan pasar-pasar di kecamatan karena harganya murah dan terjangkau konsumen. "Saya menjual ke pengecer Rp 8.000 per kg, kalau kolang-kaling gepeng dan leber Rp 10.000 per kg," ungkapnya.

Dia mengakui usaha yang ditekuninya merupakan usaha setahun sekali saat datangnya Ramadhan."Kalau bulan lain kami sebagai penggalas, bertani dan berdagang, tapi bulan suci Ramadhan ini kami membuat kolang-kaling anggur," katanya. Dia menambahkan, "Industri yang saya tekuni ini tidak susah untuk memasarkannya, kalau konsumen datang membeli kerumah saya jual dengan harga Rp 8.000 per kg. Dan kalau saya ecer sampai ke Sei Lepan, harganya saya jual Rp 10.000-Rp 12.000 per kg."

Syamsul menambahkan, selama dua hari puasa dalam Ramadhan ini dia baru memproduksi kolang-kaling sekitar 75 kg, karena buah mergatnya juga sudah langka. "Untuk mergat kecil yang bisa diproduksi kolang-kaling anggur satu mayang kami beli dari pemilik kebun aren seharga Rp 30.000, kalau mergat besar untuk industri kolang-kaling besar yang gepeng harganya satu mayang Rp 55.000 sampai Rp 75.000 ribu," ungkapnya.

Ditemui terpisah, Khairuddin, seorang pemilik usaha kolang-kaling di Kecamatan Selesai, Langkat, mengatakan usaha yang dilakoninya merupakan rutinitas setiap hari, tidak hanya di saat Ramadahan tiba. "Kalau industri kolang-kaling yang saya hasilkan ini sudah ada penampungnya. Menurut toke kami di Medan, kolang-kaling ini diekspor ke Malaysia dan Arab Saudi. Kalau tidak bulan puasa pun terus diproduksi, karena pasar di Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Bogor dan Bandung pasokan kolang-kalingnya dari Kecamatan Selesai," katanya. (misno)

source : medanbisnisdaily.com
Share on Google Plus

About Star Tonn

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment