KKR Borong Saham Japfa Rp 1,08 T

Star Tonn | 3:52 PM | 0 komentar

Jakarta – KKR Jade Investment Pte Ltd berkomitmen untuk membeli 750 juta saham baru atau setara 6,57% dari modal disetor PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Selain itu, KKR juga membeli 3,87% saham Japfa milik induk usahanya. Total nilai transaksi mencapai Rp 1,08 triliun.
KKR Borong Saham Japfa Rp 1,08 T

Sekretaris Perusahaan Japfa Comfeed Maya Pradjono mengatakan, perseroan bersama KKR Jade telah menandatangani subscription agreement pada 8 Juni 2016. Hal ini terkait rencana perseroan dalam mengeluarkan saham baru melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.
“Harga pelaksanaan ditetapkan Rp 935,6 per saham. Dana hasil penerbitan saham baru akan digunakan untuk keperluan umum termasuk menurunkan liabilitas, investasi, modal kerja, dan keperluan koporasi umum yang bermanfaat bagi perseroan,” jelas dia dalam keterangan resmi, kemarin.
Sebagai informasi, KKR adalah manajer investasi global yang mengelola investasi, dalam bentuk kelompok multiple asset termasuk private equity, bidang energi, infrastruktur, real estate, dana pinjaman dana lindung nilai.
KKR bertujuan menghasilkan pengembalian investasi yang menarik dengan menerapkan pendekatan investasi yang disiplin. KKR menginvestasikan modalnya sendiri bersama dengan modal para mitranya dan memberikan kesempatan bagi pihak-pihak lain melalui usaha di pasar modal. “KKR merupakan perusahaan investasi yang tidak terafiliasi dengan perseroan,” jelas dia.
Dalam skema transaksi, KKR Jade bakal membeli saham ke Japfa Comfeed sebesar Rp 701,7 miliar. Kemudian, KKR mengucurkan lagi dana untuk membeli saham dari Japfa Ltd, pemegang saham mayoritas Japfa Comfeed.
Japfa Ltd akan menjual 441,66 juta saham atau sekitar 3,87% ke KKR Jade dengan harga sekitar US$ 28,3 juta atau sekitar Rp 376,39 miliar, seiring dengan transaksi saham baru Japfa Comfeed. Dengan demikian, KKR Jade mengucurkan dana hingga Rp 1,08 triliun untuk membeli saham Japfa Comfeed.
Setelah transaksi, Japfa Ltd masih menjadi pemegang saham mayoritas, namun kepemilikan turun dari 58,73% menjadi 51%. Sementara itu, saham publik akan terdilusi dari total 31,76% menjadi 29,67%.
Hingga kuartal I-2016, Japfa Comfeed berhasil membukukan pendapatan Rp 6,4 triliun atau tumbuh 8,3% dibandingkan periode sama tahun lalu. Perseroan juga berhasil mencatatkan laba bersih Rp 277,2 miliar dari sebelumnya menderita rugi senilai Rp 222 miliar.
Adapun perbaikan kinerja perusahaan pakan ternak tersebut didorong oleh keuntungan dari foreign exchange (forex) dan penurunan beban bunga. Rate forex pada kuartal I-2016 berada pada level Rp 13.276 per dolar AS, dibandingkan Rp 13.795 pada kuartal IV-2015. Perseroan juga mendapat untung forex translation sebesar Rp 127,5 miliar setelah merugi di kuartal I-2015.
Selain itu, Japfa juga melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi sebanyak US$ 4 juta pada kuartal I-2016. Sebelumnya, perseroan telah melakukan buyback obligasi senilai US$ 26 juta sepanjang 2015-2016. "Hal ini mengurangi exposure utang dolar AS perseroan," jelas analis Daewoo Securities Indonesia Mimi Halimin dalam risetnya.
Menurut Mimi, ada beberapa faktor positif yang akan membuat kinerja perseroan terus membaik ke depannya. Pertama, perseroan memiliki diversifikasi produk yang baik untuk memenuhi kebutuhan konsumer yang berganti-ganti terhadap protein. Kedua, tanda-tanda perbaikan kinerja sudah terlihat dan trennya diperkirakan berlanjut. Ketiga, Japfa bisa membebankan volatilitas harga bahan baku kepada konsumer.
"Namun, risiko bagi perseroan adalah melemahnya daya beli, oversupply yang berlanjut karena isu kartel yang belum beres, potensi kenaikan harga komoditas terutama jagung dan kedelai, serta volatilitas nilai tukar yang akan lebih besar dari perkiraan," paparnya.
Japfa memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 10% - 15% tahun ini. Sejak 2007, rata-rata pertumbuhan pendapatan perseroan setiap tahun sebesar 15,5%.
Sebelumnya, Direktur Keuangan Japfa Comfeed Indonesia Marcus Koesbyanto mengatakan, proyeksi pendapatan perseroan dapat tercapai apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tahun ini stabil. Menurut dia, kinerja keuangan perseroan dalam dua tahun terakhri turun signifikan karena tertekan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Jika nilai tukar rupiah terhadap dolar lebih stabil semua industri lebih mudah memprediksi kinerja keuangan sebenarnya,” jelas Marcus di Jakarta, belum lama ini.

source : beritasatu.com

Category:

Bloggues.com
Adalah Blog yang berisi tentang Informasi Publik dan Berita Terbaru, Berita Politik, Berita Olahraga, Berita Islam, Berita Seleb, Info Kesehatan, Info peluang bisnis

0 komentar

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan juga relevan dengan tema artikel yang ditulis.