Ini Rahasia, Kenapa di Australian tidak ada Sarjana Pengangguran

Ini Rahasia, Kenapa di Australian tidak ada Sarjana PengangguranDi Australia, tidak ada istilah "Sarjana Pengangguran”, karena sebelum lulus mereka sudah bekerja. Bahkan kebanyakan sejak SMA sudah bekerja part time. Sehingga tidak ada waktu jeda antara lulus ujian sarjana dan mencari, serta mendapatkan lowongan pekerjaaan.

Ini Rahasia, Kenapa di Australian tidak ada Sarjana Pengangguran

Ini Rahasia, Kenapa di Australian tidak ada Sarjana Pengangguran  Cucu-cucu kami, baik yang di western Australia, maupun yang di Wollongong, sejak SMA semua sudah bekerja part time. Mengapa Hal Ini Tidak Dapat Diterapkan di Indonesia?
Akibat Ruwetnya UU Tentang Pekerja Anak, pengusaha tidak mau ambil resiko. Hari Buruh yang diperingati pada tanggal 1 Mei 2016 masih terasa hangat. Maka saya terinspirasi untuk menuliskan tentang pekerja anak.

Sebagai mantan Pengusaha yang memanfaatkan tenaga kerja sekitar 100 orang, tentu setidaknya saya sudah harus memahami hal-hal mendasar tentang Undang-undang tenaga kerja. Pada waktu itu, perusahaan saya berkantor di Jalan Niaga, kota Padang. Tepat berseberangan dengan kantor Polsek, di bagian belakang kantor, dimanfaatkan sekaligus sebagai gudang kopi dan kulit manis.

Untuk tenaga bongkar muat, itu sudah ada kelompok buruh yang mengatur. Tegasnya bukan urusan saya. Setiap kali mereka membongkar muatan kopi, kulit manis dan komoditas lainnya, kepala gudang akan melaporkan jumlah koli nya dan kemudian ongkos dibayar dan urusan selesai. Pada waktu akan dimuat ke truk untuk dikapalkan di pelabuhan Teluk Bayur, maka kembali buruh lepas dari luar diizinkan masuk kedalam gudang untuk mengangkat barang-barang yang sudah ready for export.

Sama halnya ketika membongkar barang, setelah selesai dimuat, maka ongkos mereka dibayar dan urusan selesai. Urusan Pekerja Anak Ruwet Yang menjadi ruwet adalah pekerja harian, yang jumlahnya sekitar 100 orang dan ditugaskan di 3 unit gudang, yakni gudang kopi, gudang pinang dan gudang gambir. Secara berkala petugas dari kantor tenaga kerja datang dan melakukan pemeriksaan.

Tentunya mereka dipersilakan memeriksa dan bertanya langsung kepada pekerja di dalam gudang kami. Ternyata kemudian saya dapat surat panggilan karena tercatat ada beberapa pekerja kedapatan dibawah umur 18 tahun. Dan berdasarkan Pasal 68 UU No. 13 tahun 2003 dinyatakan bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak. Pada ketentuan undang-undang tersebut, usia 18 tahun adalah usia minimum yang diperbolehkan untuk bekerja, tapi di bagian lain dikatakan bahwa pengusaha boleh menerima anak anak dibawah umur 18 tahun, selama tidak menganggu sekolah mereka.

 Nah, hal ini bagaimana pengusaha tahu bahwa mereka terganggu atau tidak? Padahal perkerjaan mereka bukan mengangkat barang, melainkan hanya duduk menyortir, sesuai dengan mutu barang, mana yang A dan mana yang B dan C. Secara tidak langsung, sesungguhnya mereka dilatih untuk keterampilan mengenali kualitas barang. Dan untuk itu mereka mendapatkan upah sesuai UMR, apalagi mereka masuk bekerja dengan menunjukkan KTP atau surat dari RT bahwa usia mereka sudah lebih dari 18 tahun.

Dipanggil bolak balik, malahan dengan menyebutkan ancaman hukuman sekian ratus juta dan sekian tahun penjara, maka asosiasi pengusaha menghimbau untuk  memilih jalan aman yakni stop sama sekali memperkerjakan orang-orang yang diperkirakan usianya dibawah 20 tahun, karena upah mereka tidak ada bedanya antara usia muda dan dewasa. Perlu Peremajaan Undang-undang Pekerja Anak Perlu UU tentang pekerja anak disederhanakan, sehingga tidak multi tafsir dan memberikan peluang kepada petugas Kantor Tenaga Kerja untuk memanggil dan menginterogasi Pengusaha.

Sehingga anak-anak sekolah, tidak kehilangan kesempatan untuk bekerja dan sekaligus mendapatkan kesempatan untuk belajar berbagai ketrampilan selama mereka bekerja.
Di Australia Anak-anak Resmi Dizinkan Bekerja, di Australia anak-anak sekolah, resmi diizinkan bekerja, maksimum 20 jam dengan gaji untuk anak-anak setingkat SMP sekitar 8 dolar perjam. Anak setingkat SMA 12 jam perjam dan Mahasiswa antara 16 -20 dolar perjam. 

Tugas mereka adalah di McDonald, di Bakery Shop, Café, Supermarket dan lapangan kerja lainnya, yang tidak termasuk pekerjaan berat. Rata-rata mereka bekerja bukan karena orang tua tidak mampu, tetapi mempersiapkan anak-anak sedini mungkin, memahami dan mendapatkan kesempatan untuk belajar berbagai hal selama berkerja. Pada waktu mereka lulus, maka tidak ada istilah ”Sarjana Pengangguran” di sini, karena sebelum mereka lulus jadi sarjana, mereka sudah mendapatkan pekerjaaan. Tergantung kalau mereka ingin mendapatkan pekerjaan di bidang lainnnya. Semoga tulisan ini ada manfaatnya untuk disimak demi untuk mempersiapkan masa depan anak-anak kita. Agar kelak di Indonesia tidak akan ada lagi sarjana pengangguran.

sumber : http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/mengapa-di-australia-tidak-ada-sarjana-pengangguran_5728a8fb1197730b07297428



Ini Rahasia, Kenapa di Australian tidak ada Sarjana Pengangguran Ini Rahasia, Kenapa di Australian tidak ada Sarjana Pengangguran Reviewed by Star Tonn on 7:24 AM Rating: 5

No comments

Silahkan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan juga relevan dengan tema artikel yang ditulis. Tidak diperkenankan untuk spaming. Terimakasih.